KESEHATAN MENTAL
GANGGUAN-GANGGUAN PADA ANAK DAN REMAJA
SERTA PENANGANNYA.



1. Pengertian dan Karakteristik Umum Gangguan Kepribadian
Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya, kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan.Sedangkan menurut Koswara (1991) dalam pengertian sehari-hari kepribadian adalah bagaimana individu menampilkan dan menimbulkan kesan bagi individu lain.Menurut Maramis (1999) kepribadian adalah keseluruhan pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus menerus terhadap hidupnya.Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.Orang yang mengalami kepribadian biasanya memiliki tingkah laku yang kompleks dan berbeda-beda berupa :
Ketergantungan yang berlebihan
Ketakutan yang berlebihan dan intimitas
Kesedihan yang mendalam
Tingkah laku yang eksploitatif
Kemarahan yang tidak dapat dikontrol
Kalau masalah mereka tidak ditangani, kehidupan mereka akan dipenuhi ketidakpuasan
Gangguan kepribadian merupakan suatu gangguan berat pada karakter dan kecenderungan perilaku pada individu. Gangguan tersebut melibatkan beberapa bidang kepribadian dan berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan itu dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan pengalaman hidup pada awal masa kanak-kanak.Diagnosa terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang kontroversial dan merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam memberikan sebutan label atau pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya, individu tersebut semakin enggan untuk berobat dan melakukan isolasi diri.Kemunculan gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada penekanan perasaan-perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami distres pada umumnya. Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir, menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial. Beberapa perilaku tersebut mengganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan atau menlanjuti hubungan dengan orang lain.
Hal ini disebabkan oleh permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam mengenal perasaan-perasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya. Penderita gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar. Problem ketergantungan pada alkohol, gangguan mood, kecemasan dan gangguan makan, melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap diri sendiri, keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi bagian dari permasalahan gangguan kepribadian.
Karakteristik umum orang yang mengalami gangguan kepribadian :
Individu dengan gangguan kepribadian sarat dengan berbagai pengalaman konflik dan ketidakstabilan dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum gangguan kepribadian berdasarkan kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum gangguan ini klasifikasikan berdasarkan :Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari social expectation. Penyimpangan pola tersebut pada satu atau lebih:
cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya, orang lain dan waktuafeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan)
fungsi-fungsi interpersonaldan kontrol terhadap impulsGangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh pada situasi sosial.
Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress atau memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting lainnya.Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan memuncak menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa
Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang disebabkan oleh kondisi medis seperti luka di kepala.

2. Faktor Penyebab Gangguan Kepribadian
a. Faktor genetika
Salah satu buktinya berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Diantara kembar monozigotik, angka kesesuaian untuk gangguan kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik. Selain itu menurut suatu penelitian, tentang penilaian multiple kepribadian dan temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar monozigotikyang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama.
b. Faktor tempramental
Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa. Contohnya, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami kepribadian menghindar.
c. Faktor biologis
Hormon. Orang yang menunjukkan sifat impulsive seringkali juga menunukkan peningkatankadartestorner,17-estradioldanestrone.Neurotransmitter. Penilaian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotonergik, menyatakaan suatu fungsi mengaktivasi kesadarandari neurotransmitter tersebut. Meningkatkan kadaar serotonin dengan obat seretonergik tertentu seperti fluoxetine dapat menghasilkan perubahan dramatik pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas.
Elektrofisiologi. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram telah ditemukaan pada beberaapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.


d. Faktor psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anakyang berlebihan atau kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir dan sangat teliti.

3. Jenis – Jenis Gangguan Kepribadian
a.      Paranoid
Ciri-ciri gangguan ini sebagai berikut:
1.       Kecurigaan yang bersifat pervasive bahwa dirinya sedang dicelakai atau dikhianati
2.      Keraguan yang mendasar pada teman-teman
3.      Enggan mempercayai orang lain
4.      Sangat perasa
5.      Kaku
6.      Suka menentang
Gangguan kepribadian ini dapat disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang buruk ditambah dengan keadaan lingkungan yang dirasa mengancam. Pola asuh dari orang tua yang cenderung tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dengan orang lain juga dapat menjadi penyebab dari berkembangnya gangguan ini.
Bagi beberapa orang yang mengalami gangguan ini, rasa permusuhan mereka terhadap orang lain mungkin berasal dari adanya penghargaan diri yang berlebihan, sedangkan pada yang lainnya mungkin hal itu berasal  dari konsep diri yang lemah atau kurang dan harapan bahwa orang lain akan mengkritisi dan menyalahkan mereka atas berbagai masalah. Sikap ini dapat tumbuh pada anak-anak yang memiliki orang tua yang kasar, suka mengkritik, dan tidak mentoleransi berbagai kelemahan, tetapi juga pada orang tua yang terlalu menekankan pada anak-anak mereka bahwa  mereka spesial dan berbeda dengan orag lain.
Ahli teori kognitif melihat gangguan paranoid sebagai  hasil dari sebuah keyakinan yang mendasar bahwa orang lain sebagai orang yang berhati dengki dan memperdaya, dikombinasikan dengan kurangnya rasa percaya diri dalam mempertahankan diri menghadapi orang lain.Adapun pengobatannya, bila diminta bantuan maka dalam bimbingan dititik beratkan pada pengalaman subjektif dalam pribadinya dan pada interaksi dengan dokter.

b.     Skizoid
            Adapaun ciri-ciri gangguan ini sebagai berikut :
a.      Sedikit aktivitas yang memberikan kesenangan
b.      Emosi dingin, afek mendatar atau tak peduli
c.       Kurang mampu mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau kemarahan terhadap orang lain
d.      Tampak nyata ketidakpedulian baik terdapat pujian maupun kecaman
e.      Hampir memilih aktivitas yang dilakukan sendiri
f.        Sangat tidak sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yag berlaku
g.      Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab, dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu
                  Para ahli teori psikoanalisa berpendapat bahwa gangguan skozoid dibangun melalui hubungan ibu dan anak yang terganggu, dimana anak tidak pernah belajar memberi dan menerima kasih sayang, anak tersebut menunjukkan hubungan dan emosi-emosi sebagai hal yang berbahaya.Sedangkan para ahli teori kognitif menggambarkan gaya berpikir dari orag skizoid sebagai orang yang tidak memperbaiki diri dan tidak responsif terhadap tanda-tanda yang menunjukkan emosi.
Pengobatan gangguan skozoid bisa dengan cara psikoterapi suportif, bimbingan dalam cara hidup, anjuran untuk mengambil bagian dalam kegiatan sosial dan hubungan antar manusia.

C.    Skizotipal
Gangguan ini memiliki ciri-ciri khas sebagi berikut :
a.       Suka menyendiri dan menghindari orang lain
b.      Egosentrik
c.       Dihantui oleh pikiran-pikiran autistik yaitu pikiran yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain
d.      Amat perasa
e.       Sering bertahayul
Seperti halnya orang-orang skizoid, orang skizotipal juga cenderung terisolasi secara sosial dan menjaga jarak emosi, sehingga mereka merasa tidak nyaman dalam membangun hubungan sosial. Penderita gangguan skizotipal mempunya empat
Pertama            : Paranoia (bersifat paranoid dan selalu curiga)
Kedua             : Referensi ide (meyakini bahwa kejadian-kejadian acak yang ada di sekitarnya berkaitan dengan mereka)
Ketiga             : Keyakinan aneh dan pemikiran magis
Keempat          : Ilusi yang merupakan halusinasi singkat

d.      Historik
            Adapaun ciri-ciri gangguan ini (Rusdi Maslim, 2001) sebagai berikut :
a.      Ekspresi emosi yang dibuat-buat seperti sandiwara yang dibesar-besarkan
b.      Bersifat sugestif (mudah dipengaruhi oleh orang lain dan keadaan)
c.       Keadaan afktif yang labil dan dangkal
d.      Terus menerus mencari kegairahan, penghargaan dari orang lain dan aktivitas di mana pasien menjadi pusat perhatian
e.      Penampilan atau perilaku merangsang yang tidak memadahi
            Individu dengan gangguan ini biasanya memiliki masalah atau disfungsi seksual, pada kaum wanita biasanya anorganismic (masalah dalam orgasme) dan pada prianya impoten, mereka melakukan tingkah laku seductive (menggairahkan) yang lebih karena ingin meyakini diri sendiri bahwa mereka menarik untuk lawan jenisnya.
            Orang dengan gangguan ini lebih menyukai bercerai atau berpisah dari pada menikah. Mereka cenderung membesar-besarkan masalah medis dan lebih banyak melakukan medis dibandingkan dengan orang kebanyakan. Akibatnya, langkah itu menyebabkan semakin meningkatnya jumlah langkah-langkah bunuh diridan mengancam dalam kelompok ini.

e.       Narsistik
Adapaun ciri-ciri gangguan ini sebagai berikut :
a.      Merasa dirinya penting dan haus akan perhatian orang lain
b.      Selalu menuntut  perhatian dan perlakuan istimewa dari orang lain, sehingga mereka sangat sulit dan tidak dapat menerima kritik dari orag lain sangat peka pada pandangan orang lain terhadap dirinya (harga diri rapuh)
c.        Bersikap eksploitatif (memikirkan kepentingan sendiri, mengabaikan hak dan persaaan orang lain).
d.      Tidak mampu menampilkan empati, kalaupun mereka memberikan empati atau simpati, biasanya mereka memiliki tujuan tertentu untuk kepentingan diri mereka sendiri
            Dari sudut pandang teori belajar sosial menemukan bahwa asal dari gaya narsistik adalah evaluasi berlebihan yang tidak realistik mengenai nilai-nilai anak oleh orang tua. Anak tidak mampu menggapai evaluasi-evaluasi orang tuanya mengenai dirinya tetapi dia secara berkelanjutan bertindak seolah-olah dia merupakan orang yang superior (berkuasa) dan menuntut orang lain melihat mereka  sebagai orang superior.
            Individu dengan gangguan ini tidak memilki self-esteem yang mantap dan mereka rentan untuk menjadi depresi. mereka biasanya tidak dapat menerima kenyataan bahwa usia mereka sudah lanjut, sedangkan mereka tetap menghargai kecantikan, kekuatan, dan usia muda secara tidak wajar. Oleh karena itu, merekaa lebih sulit untuk melewati krisis pada usia senja ketimbang individu lain pada umumnya. Masalah-masalah yang muncul dari gangguan ini misalnya sulit membina hubungan interpersonal, penolakan dari orang lain.

f.       Antisosial
            Gangguan ini juga disebut kapribadian sosiopatik danmeliputi misalnya orang-orang yang menjalankan bisnis dengan curang, politikus dan profesi lain yang curang, para pelaku tindakan criminal, pengedar obat bius, penjaja seks komersial.
            Adapaun ciri-ciri gangguan ini sebagai berikut :
a.      Perkembangan moral yang terhambat, sehingga tidak mampu mencontoh perbuatan yang diterima masyarakat. Dan tidak mampu membedakan mana yang pantas baginya dibandingkan dengan orang-orang yang lebih muda
b.       Kurang dapat bergaul dan bersosialisasi sehingga tidak mampu mengembangkan kesetiaan pada kelompok maupun nilai sosial yang berlaku.
c.       Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
d.      Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan dalam mengembangkannya
e.      Tidak mampu mengalami rasa bersalah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya dari hukuman
            Gejala gangguan ini sudah dimulai pada anak-anak yaitu sebelum usia 12-15 tahun. Seorang dewasa yang didiagnosa kepribadian anti sosial biasanya pada masa anak-anak terdapat pencurian, tidak dapat dikoreksi (sangat tidak mematuhi, biasanya terhadap orang tua), bolos sekolah, lari dari rumah sampai bermalam, hubungan sex yang dini dan aktivitas homosexual, dan agresi fisik.
            Karakteristik yang paling menonjol dari gangguan ini adalah tidak adanya pengendalian impuls, orang dengan gangguan ini memiliki tolerasi akan frustrasi yang rendah dan sering bertindak tergesa-gesa tanpa menunjukkan perhatian akan konsekuensi perbuatannya.
            Individu dengan gangguan ini mampu menampilkan tingkah laku yang menawan, kemampuan verbal yang baik, bahkan menarik perhatian lawan jenis dengan perilakunya yang pandai merayu. Namun di balik tampilan luar yang positif tersebut, apabila terapis menelusuri riwayat kehidupannya, biasanya dipenuhi dengan perilaku berbohong, membolos, mecuri, dan aktivitas ilegal lainnya.

g.      Avoidan (menghindar)
            Adapaun ciri-ciri gangguan ini sebagai berikut :
  1. Perasaan tegang dan takut yang menetap
  2. Merasa dirinya tak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain
  3. Preokupasi (kebingunan) yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi sosial
  4. Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disukai
  5. Pembatasan dalam gaya hidup karena alasan dalam keamanan diri
  6. Menghindari aktivitas sosial karena takut dikritik, ditolak dan tidak didukung. Cenderung mudah mempersepsikan olok-olok atau pelecehan yang belum tentu benar
Tidak percaya diri, rendah hati (inferiority complex) sehingga takut  berbicara di depan publik. Individu dengan gangguan ini biasanya memiliki sejarah fobia sosial atau malahan menjadi fobia sosial dalam perjalanan gangguannya.

h.      Dependent
            Adapaun ciri-ciri gangguan ini sebagai berikut :
a.       Membiarkan orang lain mengambil sebagian besar keputusan untuk dirinya
b.      Meletakkan kebutuhan dirinya lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia bergatung, dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka
c.       Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana ia bergantung
d.      Perasaaan tidak enak dan tidak berdaya jika sendirian, karena ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus dirinya sendiri
e.       Terbatasnya kemammpuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat nasehat yang berlebihan dan dukungan dari orang lain.
f.        Cenderung bersikap submisif atau patuh, Merasa tidak nyaman apabila sendirian walaupun dalam jangka waktu yang singkat, Pesimis, merasa takut untuk mengekspresikan dorongan seksual dan agresi
g.      Kurang percaya diri dan merasa tidak berdaya, kendati sesungguhnya tidak demikian.
            Individu dengan gangguan ini cenderung mengalami kesulitan dalam fungsi pekerjaan apabila mereka dituntut untuk bekerja secara mandiri dan tidak disertai adanya pengawasan atau sepervisi yang intensif.
            Gangguan ini ditandai adanya kesukaran dalam berpisah dengan orang lain, dan interaksi sosialnya diwarnai oleh adanya kecemasan, tetapi bukan karena karena takut mendapat kritik dari lingkungan seperti halnya orang dengan gangguan avoidan melainkan karena senantiasa dirindukan, disayangi, yang pada akhirnya membuat ia harus tergantung pada orang lain.
            Teori psikoanalisa melihat gangguan ini sebagai hasil fiksasi fase oral perkembangan psikoseksual, para pengasuhnya sangat mengikuti apa yang dibutuhkan oleh penderita di masa kecil atau menuntut perilaku dependent dari penderita sebagai imbalan dari pengasuhnya. Akibatnya mereka tidak dapat mengembangkan perilaku sehat yang tidak tergantung pada pengasuhnya itu.

i.        Obsesif-Kompulsif
            Obsesif artinya pemikiran yang berulang-ulang atau terus-menerus. Sedangkan kompulsif artinya tindakan terpaksa yang berulang atau terus menerus yang tidak efektif karena tidak dilaksanakan berdasarkan rancangan terlebih dahulu.
            
Adapun ciri-ciri dari gangguan ini sebagi berikut :
a.      Perfeksionisme
b.       Keteratura (ketertiban dan kerapian)
c.       Kaku dan kurang hangat dalam pergaulan dan kehidupan
d.      Pemalu
e.      Pengawasan diri yang tinggi.
f.        Perhatian yang berlebihan terhadap aturan, susunan dan juga adanya ketertarikan yang luar biasa pada detail
            Individu dengan gangguan ini cenderung bersikap serius dan tidak memiliki rasa humor. Mereka berpegang teguh pada keyakinan bahwa suatu aturan harus diikuti secara tepat dan tidak dapat diganggu gugat dengan alasan apapun. Hal tersebut yang membuat mereka tampak tidak fleksibel dan tidak dapat toleran. (Fitria Fauziyah, …)

j.        Agresif-Pasif
            Adapun ciri-ciri dari gangguan ini sebagi berikut :
a.      Tidak suka patuh pada tuntutan orang lain
b.      Benci pada figur otoritas tetapi takut menyatakan atau mengungkapkannya
c.       Kurang mampu untuk menunjukkan mengutarakan perasaan atau pendapat termasuk yang berbeda dengan orang lain tanpa harus melukai (tidak asertif) sehingga melalui cara penuh dendam yang tidak langsung.
            Kepribadian ini ditandai oleh sifat pasif dan agresif. Agresisifitas ini dapat dinyatakan  secara pasif dengan cara menghambat, bermuka masam, malas, dan keras kepala. Perilakunya merupakan cerminan rasa permusuhan yang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan atau cerminan rasa tidak puas terhadap seseorang ataupun situasi.      

4.  Terapi Gangguan Kepribadian
Beberapa penanganan (treatment) yang tersedia untuk gangguan kepribadian, termasuk:
PsikoterapiObatRawat InapKeberhasilan pengobatan tergantung pada partisipasi aktif Anda dalam perawatan Anda.
1. Psikoterapi
Psikoterapi adalah cara utama untuk mengobati gangguan kepribadian. Psikoterapi adalah istilah umum untuk proses mengobati gangguan kepribadian dengan berbicara tentang kondisi Anda dan isu-isu terkait dengan penyedia kesehatan mental. Selama psikoterapi, Anda belajar tentang kondisi Anda dan suasana hati, perasaan, pikiran dan perilaku anda. Dengan menggunakan wawasan dan pengetahuan yang Anda dapatkan dalam psikoterapi, Anda dapat mempelajari cara-cara sehat untuk mengelola gejala.
Jenis psikoterapi yang digunakan untuk mengobati gangguan kepribadian meliputi:
Terapi perilaku kognitif. Ini menggabungkan fitur dari terapi kognitif dan terapi perilaku untuk membantu Anda mengidentifikasi keyakinan dan perilaku negatif yang tidak sehat dan menggantinya dengan keyakinan dan perilaku sehat, yang positif.
Terapi perilaku dialektis. Ini adalah jenis terapi perilaku kognitif yang mengajarkan keterampilan perilaku untuk membantu Anda mentolerir stres, mengatur emosi Anda dan meningkatkan hubungan Anda dengan orang lain.
Psikoterapi Psikodinamik. Terapi ini berfokus pada peningkatan kesadaran Anda dari pikiran bawah sadar dan perilaku, mengembangkan wawasan baru ke dalam motivasi Anda, dan menyelesaikan konflik untuk hidup lebih bahagia.
Psychoeducation. Terapi ini mengajarkan Anda – dan kadang-kadang keluarga dan teman – tentang penyakit Anda, termasuk perawatan, menguasai strategi dan kemampuan memecahkan masalah.Psikoterapi dapat diberikan dalam sesi individu, terapi kelompok atau dalam sesi yang mencakup keluarga atau bahkan teman. Jenis psikoterapi yang tepat untuk Anda tergantung pada situasi individu Anda.

2. Obat
Tidak ada obat khusus yang disetujui oleh Badan Administrasi Makanan dan Obat (FDA) untuk mengobati gangguan kepribadian. Namun, beberapa jenis obat-obatan psikiatri dapat membantu dengan gejala gangguan kepribadian yang beragam.Obat Antidepressant. Antidepresan mungkin berguna jika Anda memiliki suasana hati, amarah depresi, impulsif, mudah marah atau putus asa, yang mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian.
Obat untuk menstabilkan suasana hati. Sebagaimana namanya, stabilisator suasana hati dapat membantu bahkan keluar perubahan suasana hati atau mengurangi lekas marah, impulsif dan agresi.Obat Anti-kecemasan. Ini dapat membantu jika Anda memiliki kecemasan, agitasi atau insomnia. Namun dalam beberapa kasus, obat anti kecemasan dapat meningkatkan perilaku impulsif.Obat Antipsikotik. Juga disebut neuroleptik, ini mungkin dapat membantu jika gejala termasuk kehilangan sentuhan dengan kenyataan (psikosis) atau dalam beberapa kasus jika Anda memiliki kecemasan atau masalah kemarahan.

3. Rawat inap dan program perawatan perumahan
Dalam beberapa kasus, gangguan kepribadian mungkin begitu parah sehingga Anda memerlukan rawat inap kejiwaan. Rawat inap psikiatri umumnya direkomendasikan hanya bila Anda tidak dapat merawat diri sendiri dengan benar atau ketika Anda sedang dalam bahaya langsung merugikan diri sendiri atau orang lain. Pilihan rawat inap psikiatri termasuk 24-jam perawatan rawat inap, rawat inap sebagian atau hari, atau perawatan perumahan, yang menawarkan tempat yang mendukung untuk hidup.Berpartisipasi dalam perawatan Anda sendiri
Cobalah untuk menjadi peserta aktif dalam perawatan Anda. Bekerja sama, Anda dan dokter atau terapis dapat memutuskan mana pilihan pengobatan yang terbaik untuk situasi Anda, tergantung pada jenis gangguan kepribadian, gejala dan keparahan , preferensi pribadi Anda, asuransi, keterjangkauan, efek samping pengobatan, dan faktor lainnya.
Dalam beberapa kasus, gangguan kepribadian mungkin begitu parah sehingga dokter, kekasih atau wali mungkin perlu untuk membimbing perawatan Anda sampai Anda cukup baik untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan




Sumber:
 psikologi abnormal, 2004 oleh: J Davidson,Neale,M.kring
Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Basri, Augustine Sukarlan. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI
Press.
Johnson, C. Anderson. 2004. Stressful Life Events, Smoking Behavior, and



Komentar

Posting Komentar