GANGGUAN ANAK DAN
REMAJA
RETRADASI MENTAL
Gangguan
Intelektual / Retardasi Mental
Retardasi mental adalah hendaya atau keterlambatan
secara umum pada perkembangan
intelektual dan kemampuan-kemampuan adaptif.
Dalam DSM V, istilah yang digunakan untuk merujuk pada retardasi mental
adalah gangguan intelektual. American
Association on Intelectual and Development Disabilties/AAIDD (Kring, et.al.
2012) menjelaskan bahwa gangguan intelektual ditandai oleh keterbatasan yang
signifikan dari fungsi-fungsi dan tingkah laku yang tidak adaptif yang
diekspresikan dalan keterampilan konseptual, sosial dan keterampilan praktis
adaptif.
Kriteria diagnostik gangguan intelektual dalam DSM V
adalah sebagai berikut:
- Hendayan
dalam fungsi-fungsi intelektual, seperti penalaran, pemecahan masalah,
perencanaan, pemikiran abstrak, pertimbangan, pembelajaran akademik,
pembelajaran dari pengalaman, yang dibuktikan oleh asesmen klinis dan
individual, skor rendah pada tes intelegensi formal, yaitu kira-kira 70 atau di
bawahnya.
- Hendaya
dalam fungsi-fungsi adaptif yang menghasilkan kegagalan perkembangan dan
kegagalan memenuhi standar sosio-kultural untuk kemandirian personal dan
tanggung jawab sosial. Tanpa adanya dukungan yang berkelanjutan, hendaya
kemampuan adaptif membatasi fungsi-fungsi dalam satu atau lebih aktivitas
sehari-hari, seperti komunikasi, partisipasi sosial, dan kemandirian hidup,
serta membutuhkan dukungan menjalani kehidupan dalam lingkungan, seperti rumah,
sekolah, pekerjaan dan komunitas.
- Kemunculan
(onset) dari defisit kemampuan intelektual dan adaptif adalah selama periode
perkembangan sebelum usia 18 tahun.
Gangguan intelektual dapat dispesifikasikan menjadi
empat tingkatan berdasarkan derjata keparahannya. Dalam DSM IV (Nevid, dkk,
2003) dan DSM V, ada empat tingkatan gangguan intelektual atau retardasi mental
, yaitu mild (ringan), moderate (sedang), severe (berat) dan profound
(parah). Berikut ini adalah tabel mengenai tingkat gangguan intelektual,
perkiraan rentang skor IQ dan jenis tingkah laku adaptif yang terlihat.
|
Perkiraan Rentang IQ
|
Usia Prasekolah 0-5
tahun
Kematangan dan
Perkembangan
|
Usia Sekolah 6-21
tahun
Pelatihan dan
Pendidikan
|
Dewasa di atas 21
tahun
Kemampuan Sosial dan
Vokasional
|
|
Ringan
(50
– 55 sampai sekitar 70)
|
Sering
terlihat tidak memiliki gangguan tetapi lambat dalam berjalan, makan sendiri,
dan bicara dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
|
Menguasai
keterampilan praktis serta kemampuan membaca dan aritmetika sampai kelas 3-6
SD dengan pendidikan khusus. Dapat diarahkan pada konformitas sosial
|
Biasanya
dapat mencapai keterampilan sosial dan vokasional untuk membiayai diri
sendiri; mungkin membutuhkan bimbingan dan dukungan dalam menghadapi tekanan
sosial dan ekonomi yang tidak biasa
|
|
Sedang
(35-40
sampai 50-55)
|
Keterlambatan
yang nyata pada perkembangan motoric, terutama dalam bicara; berespon
terhadap pelatihan dalam berbagai aktivitas self-help
|
Dapat
mempelajari komunikasi sederhana, perawatan kesehatan dan keselamatan dasar,
serta keterampilan tangan sederhana; tidak mengalami kemajuan dalam fungsi
membaca atau aritmetika.
|
Dapat
melakukan tugas-tugas sederhana dalam lingkungan pusat pelatihan;
berpartisipasi dalam rekreasi sederhana; bepergian secara mandiri ke
tempat-tempat yang dikenal; biasanya tidak melakukan self-maintenance
|
|
Berat
(20-25
sampai 35-40)
|
Ditandai
dengan adanya keterlambatan dalam perkembangan motorik, kemampuan komunikasi
yang minim atau tidak ada sama sekali; berespon terhadap pelatihan self-help
mendasar, misalnya makan sendiri
|
Biasanya
mampu berjalan, tetapi memiliki ketidakmampuan yang spesifik; dapat mengerti
pembicaraan dan memberikan respon; tidak memiliki kemajuan dalam kemampuan
membaca atau aritmetika
|
Dapat
menyesuaikan diri dengan rutinitas sehari-hari dan aktivitas repetitive;
membutuhkan pengarahan dan supervise terus-menerus dalam lingkungan yang
melindungi
|
|
Parah
(dibawah
20 atau 25)
|
Retardasi
motorik kasar; kapasitas minimal untuk berfungsi pada area sensorimotor;
membutuhkan bantuan perawat
|
Keterlambatan
yang terlihat jelas dalam semua area perkembangan; dapat menunjukkan respon
emosional dasar; mungkin berespon terhadap pelatihan keterampilan dengan
menggunakan kaki, tangan, dan rahang; memerlukan pengawasan yang ketat.
|
Dapat
berjalan, mungkin membutuhkan bantuan perawat, dapat berbicara secara
primitif; terbantu dengan aktivitas fisik teratur; tidak dapat melakukan self-maintanance
|
Sumber
: Essentials of Psychology (Edisi 6) oleh S.A Rathus (1996) dalam Nevid, dkk,
2003. Copyright 2001.
Gangguan intelektual dapat disebabkan oleh aspek
biologis, psikososial, atau kombinasi dari keduanya (APA dalam Nevid dkk,
2003). Penyebab biologis mencakup gangguan kromosom dan genetis, penyakit
infeksi, dan penggunaan alkohol pada saat ibu mengandung. Kasus-kasus lain
disebabkan oleh faktor dari budaya atau keluarga, seperti pengasuhan dalam
lingkungan rumah yang miskin. Berikut adalah gambaran mengenai penyebab
gangguan intelektual dari berbagai aspek.
1) Sindrom
Down dan Abnormalitas Kromosom Lainnya.
Sindrom down adalah kondisi yang disebabkan oleh
adanya kelebihan kromosom pada pasangan ke-21 sehingga menyebabkan jumlah
kromosom menjadi 47, bukan 46 seperti pada individu normal (Wade dalam Nevid
dkk, 2003). Sindorm down merupakan kelainan yang paling umum menyebabkan
retardasi mental dan anomali fisik yang beragam, seperti gangguan pada
pembentukan jantung dan kesulitan pernapasan. Penyebab retardasi mental lainnya
adalah sindrom Klinefelter yang hanya muncul pada laki-laki, ditandai oleh
adanya ekstra kromosom X sehingga menghasilkan kromosom XXY, bukan XY yang
biasanya dimiliki laki-laki normal. Selain itu, ada juga kelainan kromosom yang
disebut sindrom Turner yang hanya ditemukan pada wanita. Sindorm Turner
ditandai oleh adanya kromosom seks X tunggal, bukannya ganda seperti pada
wanita normal.
2) Sindrom
Fragile X dan Abnormalitas Genetis Lainnya.
Sindrom Fragile X adalah bentuk retardasi mental
yang diwariskan dan disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X. Gangguan ini
merupakan bentuk retardasi mental yang paling sering muncul setelah sindrom
Down. Abnormalitas genetis lainnya yang menyebabkan retardasi mental adalah
phenylketonuria (PKU). Gangguan ini disebabkan oleh adanya satu gen resesif
yang menghambat anak untuk melakukan metabolisme asam amino phenylalanine, yang
banyak terdapat pada makanan. Konsekuensinya, phenylalanine dan turunannya,
asam phenylpyruvic, menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan pada sistem
saraf pusat yang mengakibatkan retardasi mental dan gangguan emosional. Kemunculan
retardasi mental dapat diminimalkan dengan mengontrol pola makan secara ketat.
3) Faktor-Faktor
Prenatal
Beberapa kasus retardasi mental disebabkan oleh
infeksi atau penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Penyakit ibu selama
mengandung dapat ditularkan kepada fetus dan berefek sangat tragis pada fetus
tersebut. Meskipun ibu hanya mengalami gejala-gejala ringan atau tidka
merasakannya sama sekali. Penyakit ibu yang dapat menyebabkan retardasi mental
adalah sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital. Selain itu, obat-obatan
yang digunakan ibu selama kehamilan dapat memengaruhi bayi melalui plasenta,
misalnya saja ibu yang meminum alkohol. Komplikasi kelahiran, seperti
kekurangan oksigen atau cedera kepala, menempatkan anak pada risiko yang lebih
besar terhadap gangguan neurologis, termasuk retardasi mental. Kelahiran
prematur misalnya, dapat menimbulkan risiko retardasi mental dan gangguan
perkembangan lainnya.
4) Faktor
Budaya dan Keluarga
Faktor-faktor psikososial, seperti lingkungan rumah
atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi intelektual,
penelantaran dan kekerasan dari orang tua, dapat memberikan kontribusi dalam
perkembangan retardasi mental, terutama pada tingkatan ringan. Bentuk retardasi
mental ringan yang dipengaruhi oleh lingkungan rumah yang miskin disebut
sebagai retardasi budaya-keluarga (cultural-familial
retardation).
Penanganan yang dapat dilakukan untuk gangguan
intelektual umumnya berupa intervensi psikoedukasi. Intervensi yang dilakukan
bertujuan untuk mendorong perkembangan akademik dan perilaku adaptif. Perawatan
di institusi dapat diperlukan bagi kasus-kasus yang berat. Ada empat bentuk
penanganan yang dapat dilakukan, yaitu penanganan residensial (residential treatment), penanganan
tingkah laku (behavioral treatment),
penanganan kognitif (cognitive treatment)
dan instruksi pertolongan computer (computer-assisted
instruction) (Kring et.al, 2012).
Sumber
:
Jeffrey
S. Nevid, Speneer A. Rathur, Baterly Greene.
Sangat bermanfaat👍
BalasHapusTerimasih kaaa :((
BalasHapusSangat membantu sekali kak :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNice kak👌
BalasHapus